19 Desember 2010

Filled Under:

Puasa: Makna, Etika, dan Hikmah

Puasa adalah menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, menahan hawa nafsu atau amarah mulai dari sebelum terbit fajar sampai tenggelam matahari. Datangnya bulan Ramadhan, ini tandanya bulan penuh berkah dan ampunan. Kaum muslim harus mengucapkan selamat atas datangnya bulan yang mulia ini, karena Allah ta’ala memberinya berbagai keistimewaan yang tidak ada pada bulan-bulan lain. Di bulan ini Allah mewajibkan puasa pada siang hari, sedang Rasulullah menyunahkan shalat pada malamnya. Selain itu pahala di bulan ini dilipat gandakan hingga tanpa batas.
“Puasa adalah milik (untuk)-ku dan aku memberi pahala karenanya”. (H.R. Bukhari dan Muslim). Allah juga menyediakan Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Orang yang memberi hidangan berbuka kepada orang yang berpuasa, akan diampuni dosa-dosanya, dan mendapatkan pahala seperti yang didapat oleh orang tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.
Ramadhan adalah bulan kemenangan, kemuliaan dan pembeda yang menunjukkan keunggulan kebenaran atas kebatilan. Ia juga merupakan bulan maghfirah (pengampunan dosa), rahmat (kasih sayang), pembebasan dai neraka, taqwa, dan pahala yang sangat besar. Dengan demikian jagalah agar bulan ini menjadi titik tolak baru dalam membangun hubungan dengan Allah SWT. Kita memohon kepada Allah ta’ala yang telah mendatangkan bulan yang agung kepada kita memohon agar dia menolong kita untuk mengisinya dengan menjalankan puasa dan shalat malam yang baik, menerima setiap amal kebaikan, melimpahkan rahmat, ampunan, dan membebaskan kita dari neraka. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan pemohonan. Dan hanya kepada-Nya kita meminta pertolongan.

Pada pembahasan sebelumnya, kita telah merenungkan tujuan puasa yang agung dan tinggi, yakni taqwa kepada Allah Azzawajalla. Puasa bukan sekedar ritual yang dipertontonkan, atau hanya sebatas masuk dalam kondisi tidak menyentuh unsur-unsur materi yang membatalkannya lalu boleh menyentuhnya pada malam hari. Di luar itu semua, puasa adalah ibadah yang sangat agung pahalanya besar, dan ganjarannya melimpah. Ini bias terjadi apabila orang yang berpuasa dapat menjaga segala etika dan syarat.
Syarat dan etika puasa, bahkan menjadi penentu dari semua syarat dan etika yang lain sehingga amalan apa pun tidak akan diterima kecuali jika didahului dengannya yakni niat melakukan puasa dengan ikhlas. Puasa sama dengan semua bentuk ibadah yang lain. Ibadah seseorang tidak akan diterima kecuali disertai dengan niat. Para ulama menyatakan bahwa niat puasa fardhu (wajib) harus dilakukan pada malam hari, berdasarkan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a dari Hafshah r.a secara marfu’. “Barang siapa yang tidak berniat puasa pada malam hari hingga sebelum terbit fajar maka tidak ada puasa baginya (tidak sah)”. (HR. Abu Daud, Ibnu Khuzaimah dan Ahmad).
Niat tidak harus diucapkan, tetapi cukup contohnya dengan melakukan persiapan untuk makan sahur, bahkan dengan tindakan ataupn ucapan apapun yang menunjukkan kepadanya .
Oleh sebab itu, orang yang hendak berpuasa harus mengesankan niatnya puasanya dengan menghayati bahwa puasa adalah ibadah yang diharapkan dapat mendekatkan diri kepada Allah. Ia menahan diri dari makan, minum, syahwat, dan nafsunya karena melaksanakan perintah Allah.
Diantara etika puasa yang lain ada hal yang harus dilakukan adalah memanfaatkan suasana yang dirasakan oleh orang yang berpuasa, seperti ketenangan jiwa, hati yang lepas, dan pikiran yang jernih. Suasana seperti ini dirasakan oleh orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. Oleh sebab itu, orang yang berpuasa seharusnya dapat memanfaatkan suasana yang jernih dan nyaman itu untuk melakukan aktivitas-aktivitas positif yang diridhoi Allah, membekali diri dengan kebaikan dan taqwa (seperti melakukan evaluasi diri, dan mengevaluasi gaya hidupnya selama ini, agar dapat memulai gaya hidup baru yang sarat dengan ketaatan kepada Allah SWT).
Contoh aktivitas positif yang dapat dilakukan adalah membaca Al-Quran. Semasa hidupnya Rasulullah SAW memberi perhatian yang lebih besar terhadap Al-Quran selama menjalani puasa di bulan Ramadhan. Mengagungkan Allah SWT dengan zikir dan doa yang dihayati dengan sepenuh hati dan diucapkan dengan lisan, sehingga lisannya senantiasa basah karena berdzikir kepada Allah. Selain itu, kita juga dapat mengerjakan beberapa amalan sunnah, seperti shalat sunnah terutama shalat tarawih. Sesungguhnya, orang yang mengerjakannya dengan iman dan tulus mengharapkan ridho Allah akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. Begitu pula amal saleh lainnya seperti sedekah dan segala bentuk kegiatan yang baik. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi, bila individu yang menerapkan etika-etika ini da masyarakat yang sarat dengan nilai-nilai ini maka akan menjadi madrasah dakwah yang mengeluarkan orang-orang saleh dalam bertindak, berakhlak, dan berperilaku, sebelum menjadi orang-orang saleh dalam kata-kata.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 183, Allah SWT menyeru hamba-hamba yang beriman dengan sifat yang sangat agung.
 
“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. 

Kewajiban ini berlaku untuk seluruh orang yang beriman dan puasa menjadi hukum syariat umum yang berlaku untuk semua orang hingga hari kiamat.
Dengan pengertian diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa taqwa merupakan hikmah dari ibadah puasa. Taqwa merupakan pesan Allah bagi seluruh manusia dan pesan Rasulullah SAW, bagi para sahabat dan umatnya. Untuk meraih hikmah agung itu orang-orang yang berpuasa harus tulus, memperbaharui keinginan berbuat baik dan taat, menjaga diri dari kelemahan, penyimpangan dan maksiat, mengembalikan manusia kepada tobat dan istigfar, dan menepis kemalasan dan kesia-siaan. Semua hal tu merupakan cermin dari sifat taqwa.
Taqwa merupakan jalan untuk mencapai rahmat Allah SWT di dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman,

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, maka akan aku tetapkan rahmat –ku untuk orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami”. (Q.S. Al-A’raaf :176)

Orang-orang yang bertaqwa akan menerima kabar gembira dan mendapat ketenangan selama hidup di dunia, baik melalui mimpi yang baik maupun karena disukai, disanjung, dan didoakan oleh kebanyakan manusia. Itulah beberapa pengaruh positif dari taqwa, belum lagi jika ditambah dengan apa yang akan diraih oleh orang yang bertaqwa di sisi Allah setelah hari kiamat, seperti kemenangan dan keberuntungan, selamat dari azab Allah ta’ala, diterima semua amal kebaikannya, diampuni segala kesalahannya, dihapus segala dosanya, dimaafkan seluruh kesalahannya, ditepatkan pada derajat yang tinggi dan pahala serta kebaikannya dilipatgandakan Allah SWT. Semua pengaruh dan hasil positif dari puasa tersebut mustahil diraih oleh orang yang hanya mengklaim telah bertaqwa tanpa menginflementasikan dalam tindakan praktis dan menjadikannya sebagai semangat perilaku. Orang yang benar-benar bertaqwa memiliki tanda-tanda yang mudah dikenal dan orang-orang yang benar-benar melaksanakannya memiliki sifat-sifat khas yang tidak ada pada orang biasa. Oleh karena itu, semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertaqwa dan banyak melakukan jebakan, serta memakai pakaian taqwa sepanjang siang dan malam. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui, Maha Mengabulkan, Maha Kuat dan Maha Pengampun. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

0 comments:

Poskan Komentar

Please don't spam here. Happy comments :D

Copyright @ 2013 Islam at Trigonal.